17 Kali

Selama bulan Ramadhan ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, setiap jam istirahat di kantorku ada pengajian. Kecuali di hari jumat tentunya.

arief-rahman.jpg

Senangnya aku karena kemarin pengisi kajian adalah Prof Dr. H. Arief Rahman, M.Pd. Aku memang suka sekali dengan profil bapak satu ini. Selain karena komitmen beliau di dunia pendidikan, secara pribadi juga beliau adalah orang yang santun, sabar dan juga humoris. Salah satu figur panutan deh. Menurutku lho…

Pertama kali aku kagum pada beliau adalah waktu temanku yang menjadi salah satu alumni SMA Lab School bercerita bahwa setiap pagi Pak Arief ini datang lebih pagi dari semua murid dan setiap pagi juga beliau berdiri di gerbang sekolah untuk menyalami semua muridnya! Mungkin buat anda ini bukanlah” sesuatu”, tapi buatku ini adalah contoh sikap santun dan disiplin yang nyata! Ga cuma omdo alias omong doang…

Pak Arief yang sudah 15 tahun memimpin Lab School ini sekarang sudah tidak lagi aktif di Lab School. Saat ini beliau mengelola sekolah yang beliau sebut sekolah Diponegoro. Di mana disitu bersekolah anak-anak dari kelas ekonomi bawah. Anak pemulung dan pengamen, misalnya.

Dalam kajian yang disampaikannya kemarin, beliau menyebutkan bahwa untuk mendidik anak cerdas dunia akhirat diperlukan 2I dan 3S. 2I yaitu Iman dan Ikhlas. 3S yaitu Sholat, Sabar dan Syukur. Soal sabar, saya terkesan dengan pengertian sabar menurut beliau. Sabar, menurutnya adalah cerdas. Kok bisa? Menurut beliau, kalo orang yang sabar pasti cerdas. Sebaliknya orang yang tidak sabar pasti bodoh. Kalo orang sabar pasti fleksibel, kreatif dan punya banyak akal dalam usaha untuk problem solving. Ga bisa pake cara A, coba pake alternatif cara B, C, D dst. Tapi kalo orang tidak sabar dan marah-marah jika menghadapi masalah, itu karena orang tersebut tidak kreatif (bodoh) mencari alternatif jalan keluar yang mungkin ada. Begitu kurang lebih penjelasan beliau.

Masih menurut Pak Arief, negeri ini telah melakukan pembodohan pada rakyatnya karena bertanya seringkali dianggap melawan. Seperti yang terjadi padanya, “hanya” karena bertanya beliau dipenjara sebanyak 17 kali. Misalnya waktu bertanya pada Bung Karno, mengapa Bung Karno mau bermain-main dengan komunisme atau waktu bertanya pada Pak Harto, mengapa kekayaan negara kok diberikan ke anak-cucunya. Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebutlah beliau dipenjara. Ugh! Negeri yang sakit!

Salut aku pada Pak Arief! Semoga selalu dirahmati dan dilindungi Allah serta diberi nikmat sehat dan panjang umur ya, Pak. Negeri ini butuh Bapak..

Advertisements

5 thoughts on “17 Kali

  1. Kami memerlukan email atau no. kontak prof. arief rahman..untuk keperluan seminar pendidikan di Univ Muhammadiyah Purworejo..thanks

    Like

  2. met siang bunda, salam kenal ya…
    bunda… sy perlu banget contact person pak Arief, bunda bisa bantu..???
    saya tunggu infonya ya… soalnya buat seminar di Palangkaraya.. trims

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s