Starbucks & Temanku

Jumat minggu yang lalu kebagian untuk testing di lokasi client. Karena masih menunggu konfirmasi dari pihak ketiga, aku dan client belum bisa bertransaksi dan memutuskan untuk menunggu di kedai Starbucks yang ada di belakang gedung tempat client berkantor. Ya sudah, karena ga pernah secara sengaja ngopi danΒ ga bisa minum dingin, pilihan jatuh pada green tea latte. Hm.. rasanya lumayan, karena ga ada ekspektansi khusus rasanya akan seperti apa.

Ini memang pertama kalinya aku ke Starbucks. Selain emang bukan anak gaul yang doyan nongkrong, I’m not a coffee addict. (Hm.. nongkrong? Terdengar selfish sekali untukku. Anak mo dikemanain? Hehe.. me time oh.. me time.. kemana perginya me time? Hush! Ngelantur! !$^$%*&!) Selain itu aku juga ga begitu doyan minuman manis. Satu-satunya alasan yang terpikir kalo aku bakalan ke Starbucks lagi adalah: ngenet. Hihi.. nyari koneksi internet gratisan gitu. Ntar lah… klo dah ada notebook punya sendiri. *angkat tangan ke depan dada dan berdoa… aamiin..*

Ga disangka ga diduga sore itu aku ketemu temen lama, temen kuliah dulu. Kira-kira sudah 3 tahun kami ga ketemu. DIbanding jaman kuliah dulu, dia terlihat beda(ya iyyalah!): rapi dalam balutan busana kerja lengkap dengan dasi dan ID Card tergantung di lehernya. “Wait.. Did you mention ID Card?” Refleks tangan saya langsung meraih ID Card-nya. Wow!

Aku (A): “Lho.. jadi kamu kerja di X (salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia)?”

Dia (D): “Iya” *datar*

A: “Lho.. ku pikir kamu berwirausaha? Kemana enterpreneurship kamu?”

D: “Ya.. ini kan juga untuk ngumpulin modal”

A: “Wah.. wah.. Aku tu slalu mikir (baca: beranggapan) kalo kamu tuh ga bakalan kerja (di perusahaan orang lain), kamu tuh enterpreneur sejati”

Duh, kejam ya aku? Kan aku ga berhak menghakimi pilihan orang lain. Hiks.. maapken aku ya, Teman…

Temanku itu memang dulu sekali terkenal dengan idealisme kewirausahaannya. Bahwa, dia selalu meng-encourage kami untuk punya usaha sendiri, instead of bekerja di perusahaan orang lain. Dan setelah lulus kulian pun, dia memang membangun perusahaannya sendiri, which was such a good example of idealism and realization.

Jang, aku ga bermaksud apa-apa kok dengan ucapanku waktu itu. Sukses terus ya, Teman! Kartu namamu aku simpen, sapa tau aku mo nyari kerjaan di perusahaan tempatmu bekerja. *bletak*

Advertisements

4 thoughts on “Starbucks & Temanku

  1. jang siapa mbak? hayoo hayoo penasaran nihhh hehehe mas ahmad yak :p piss mass…
    ato jajang anak 2000 kekeke

    hiks kadang aku juga gitu mbak
    pengen nya main ma trihan sendiri nonton apa jalan gitu

    eh sampe di mall nya ngajak pulang kekeke inget 2 unyil kecil itu πŸ˜€

    Like

  2. @sulys
    sst.. you know lah.. hehe..
    iya, emang klo dah punya anak tuh gitu. tapi momen berdua suami juga penting lho. jadi harus pinter2 cari waktu buat pacaran ma suami. hehe..

    @GoenRock
    angkringan di jakarta, mah, banyak lagi. setidaknya di daerah pondok kelapa ada beberapa.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s