Tentang Sahabat

why
gambar dari sini http://www.jermainelane.com/

Kemarin ketemu sahabat lama jaman kuliah yang sudah sekitar 7-8 tahun ga ada komunikasi sekali. Harapan: bisa catch up soal kehidupan masing-masing, cerita nostalgia, becanda, dan lain-lain yang singkatnya: edisi bahagia. Tapi oh tapi, kenyataan: dia “dingin” dengan bahasa tubuh yang jelas-jelas memberi sinyal that he was not happy to meet me. Sedih? Iya. Patah hati lebih tepatnya. Iya. Aku. Patah. Hati. Untung ga sampe berkeping-keping jadi patahannya bisa aku ambil dan satukan lagi. *sigh*

Lalu terputarlah kenangan di otakku gimana deketnya kita dulu dengan diiringi soundtractk Sebuah Kisah Klasik by Sheila on 7. Makin sedih deh jadinya. Beneran sedihnya… Trus mulailah menganalisa dan over thinking, dengan seribu kali mengulang kata tanya: kok bisa? kenapa? why? ada apa?

And the rest of that day, I couldnt help but being sad.. So sad that it made me dizzy… Lebay ya? *drama queen detected*

Tapi trus ya sudahlah ya.. Disyukuri saja kalau dia tampak baik-baik saja, sehat walafiat dengan karier yang sepertinya bagus di sebuah perusahaan BUMN besar di negeri ini. Mari kita berprasangka baik saja bahwa ya mungkin dia merasa canggung setelah sekian lama ga berkabar denganku. Atau seperti seorang teman bilang, dalam waktu 7-8 tahun seseorang bisa saja sudah banyak berubah. Jadi ya.. sudahlah..

*ambil nafas panjang*

Dear friend, I am not mad at you. I still hope one day we can be friends again. Stay blessed and happy..

Advertisements